Tampilkan postingan dengan label Muslim Negarawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muslim Negarawan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Februari 2011

Kontekstualisasi Amandemen Visi KAMMI untuk Komisariat


KAMMI yang pada dekade keduanya mengubah frasa visi ‘masyarakat islami’ menjadi ‘bangsa dan negara islami’ terbilang cukup berani. KAMMI beralih dari asalnya ‘irsyadul mujtama’ menjadi ‘ishlahul hukumah’ dimana ianya tak lagi berkutat pada rekayasa sosial saja, tetapi juga rekayasa politik. Jika kita mengibaratkan KAMMI adalah sebuah kendaraan bermotor, maka ia tak lagi sekedar ‘tidak pelan’ dengan gigi tiga, tetapi sudah ‘berpacu kencang’ dengan gigi empat.

Konsekuensinya, KAMMI –dengan kadernya– mau tidak mau harus merambah level rekayasa kebijakan tanpa meninggalkan level grass-root sosial masyarakat. Dengannya pula, maka permasalahan pengkaderan sudah dianggap selesai, meski masih perlu banyak adaptasi di sisi implementasi manhaj.

Dalam ring tarung bebas, kita tidak hanya berbicara pertarungan kekuasaan, tetapi juga pertarungan kompetensi. Stakeholder sudah tidak bodoh (untuk tidak mengatakan belum terlalu cerdas) untuk memilih dan memilah mana dan siapa yang membawa manfaat lebih banyak. Pada era ini, seakan percuma jika mampu memegang tampuk kekuasaan tetapi tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Deni Priyatno, Sekjen PP KAMMI 2009-2011, mengatakan, “saat ini gerakan dakwah ini sedang akan bahkan sedang memasuki fase menegara, pertanyaannya jika saat itu tiba akankah gerakan yang kita bangun mampu menegara…” Artinya, kita tidak perlu lagi bertanya kapan datangnya fase tersebut, melainkan apa yang dapat kita perbuat ketika kita berada dalam posisi tersebut? Setidaknya, KAMMI masih dapat menghela nafas setelah melihat hasil screening Indeks Prestasi kader yang dilaporkan baru-baru ini oleh Ikhsan Pallawa, Kadept. Kompetensi PP KAMMI 2009-2011, dimana rata-rata IP kammiers se-nasional di atas 3,00. Namun, tentu IP bukan satu-satunya parameter keberhasilan atau kesiapan kader KAMMI dalam menyiapkan masa depan.

Visi hasil amandemen tersebut jika kemudian kita tarik ke dalam konteks komisariat, maka konsekuensinya akan sama, karya dengan kompetensi. Secara politik, komisariat harus dengan tegas mengambil pemosisian gerakan di kampus. Sebenarnya, banyak posisi yang dapat diambil, seperti oposisi absolut, oposisi konstruktif, mitra/koalisi, atau bahkan menjadi leader political movement.

Pengambilan posisi KAMMI di kampus jelas harus melihat ketersediaan sumber daya (kuantitas) dan kemampuan penetrasi politik (kualitas). Ketika keduanya dapat didesakkan untuk bertemu pada satu titik limit threshold oleh para qa’idah fikriyah KAMMI (AB 2), maka KAMMI dapat dengan tegas mengambil posisi sejajar dengan para top leaders di kampus.

Jika secara manhaj KAMMI dianggap sudah selesai, maka muara aktifitasnya dapat ditambah untuk penajaman kompetensi gerakan para kader. Dengan demikian, pengayaan kader-kader KAMMI komisariat di berbagai organisasi politik di kampus bukanlah menjadi suatu hal yang tabu. Justru, program pengayaan ini harus didukung oleh para kader untuk memantapkan kekuatan gerakan politik dakwah. Sebagai sebuah elemen yang tidak terpisahkan dari sinergitas dakwah kampus, inilah yang harus KAMMI perbuat. Kita berharap, kontinuitas pemenangan politik bukanlah hajatan tahunan yang harus diselesaikan dengan gerasak-gerusuk, tetapi dengan kontinuitas pembinaan kematangan berpolitik melalui –salah satunya– KAMMI.

Sebagai ‘amal thulabi yang khusus diciptakan untuk mematangkan kompetensi politik, maka inilah wadah pengkaderan politisi, dan semua bermula dari kampus. Maka, insya Allah pemenangan politik ke depan bukan sekedar wacana lagi bagi KAMMI, melainkan sebuah muara pematangan kompetensi politik. Harus, tidak bisa tidak! Untuk itu pula, maka kader yang dikaryakan pun tidak boleh sembarangan, minimal AB 2 atau AB 1 tersertifikasi misalnya. Sehingga pengaruh itu kental, bukan hanya bangga dengan sekedar banyak mengkaryakan kader. Semoga, kita dapat mengambil ibrah hajatan politik tahunan kemarin.[]

Penulis : Rama Permana
Mahasiswa Insitut Teknologi Telkom, Bandung
Humas KAMMDA Bandung


Rabu, 24 November 2010

Kesadaran Ekspektasi (Al Wa’yu al-Amali)


Kesadaran ekspektasi menjelaskan harapan-harapan yang ingin kita peroleh dari menjadi kader. Harapan itu ada yang terkait dengan harapan jauh di akhirat. Ada juga harapan yang dekat di dunia. Pada akhirnya inilah puncak hiburan, penyegar dan pendorong bagi setiap aktivis dakwah. Spiritnya terdapat pada doa-doa abadi yang selalu kita ucapkan, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.”

Harapan sangat jauh adalah surga. Sesuatu yang harus terus menerus kita hadirkan, kita bayangkan, dan kita angankan.

“Sesungguhnya Allah memasukan orang-orang beriman dan mengerjakan amalm shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (QS. Al Hajj: 23-24).

Yahya bin Mu’adz, bersyair:

Memburu dunia kadang merendahkan jiwa
Sedang memburu akhirat adalah kemuliaan jiwa
Maka bagaimana kita memburu apa yang merendahkan untuk mencari apa yang fana
Serta meninggalkan yang memuliakan untuk mencari yang abadi

Dunia adalah tempat yang gersang
Lebih gersang lagi adalah hati-hati yang memburunya
Sedang akhirat adalah tempat yang makmur
Dan lebih makmur lagi adalah jiwa-jiwa yang mencarinya.

Sedangkan harapan-harapan dekat adalah kebahagiaan dunia, kejayaan di dunia, serta kesempatan memakmurkan bumi bagi kehidupan yang lebih baik untuk semua. []

Penulis : Noval Abuzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)
Sumber : Kammi.org


Kesadaran Berkontribusi (Al Wa’yu Al-Intaji)


Afiliasi yang benar, kuat dan loyal harus berbuah amal dan kontribusi. Kesadaran berkontribusi memberi kita pembuktian pada tataran yang lebih nyata tentang arti menjadi aktivis KAMMI. Sebab di sini kita bicara tentang apa yang bisa kita lakukan, apa yang bisa kita berikan, dan apa yang bisa kita perjuangkan untuk kemajuan Islam dan dakwah Islam.

Di sini berlaku pembedaan atas dasar amal, atas dasar kualitas, dan atas dasar kontribusi. Allah memberi keutamaan dan kelebihan kepada yang berjuang di bandingkan yang duduk-duduk saja. Yang bekerja lebih utama dari yang tidak. Yang berkontribusi lebih mendapatkan kemuliaan dari yang tidak.

“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk ddengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 95 – 96)

Berkontribusi dalam amal adalah ruh pertumbuhan. Pertumbuhan adalah inti utama model kehidupan yang dibangun Islam. Bahkan itu pula yang menjadi pertaruhan para Rasul dengan umat-umatnya yang membangkang.

“Dan (dia Syu’aib berkata): Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (QS. Huud: 93)

Di tengah peluang dan tantangan masa depan yang terus dihadapi gerakan KAMMI, peluang untuk beramal dan memberi kontribusi yang maksimal sangatlah besar. Bila kita memiliki kesadaran kontribusi yang baik, maka sesudah itu hanya soal pilihan ruang dan model. Mengembangkan kualitas dan kuantitas kader, mengadvokasi masyarakat, mendidik dan mencerdaskan masyarakat, mengembangkan model ekonomi yang mensejahterakan masyarakat adalah sebagian contoh apa yang bisa kita lakukan. Dalam Islam sistem peran adalah kontribusi untuk kita sendiri.

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.” (QS. Al Isra’: 7)

Sebagai kader, setiap kita pasti punya situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Mungkin ada di antara kita yang loyalitasnya sebagai kader bagus, tetapi produktifitasnya kurang. Kontribusinya rendah. Ada yang afiliasinya rendah, kontribusinya juga rendah. Yang lebih baik, tentu saja adalah bila loyalitas baik dan kontribusinya juga maksimal. (Bersambung ke Kesadaran Ekspektasi)

Penulis : Noval Abuzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)
Sumber : Kammi.org


Kesadaran Afiliasi ( Al Wa’yu Al-Intima-i)


Kesadaran afiliasi, dalam perspektif normative ajaran Islam, adalah perintah untuk tidak hidup sendirian. Tetapi dalam konteks gerakan mahasiswa, afiliasi pada dasarnya menjelaskan adanya tuntutan kerjasama dalam mewujudkan cita-cita kemahasiswaan kita. Bahwa tugas-tugas KAMMI yang wajib dan mulia itu, tidak dapat dilaksanakan sendirian.

Harus ada kerja sama. Lebih dari itu afiliasi adalah mekanisme pengelolaan sebuah gerakan dari personal dan parsial menjadi kerja-kerja yang integral dan universal.

Kita juga perlu menyadari bahwa gerakan dakwah yang KAMMI lakukan juga berhubungan dengan gerakan dakwah yang lebih besar, bahkan berhubungan dengan gerakan mengembalikan kejayaan Islam itu sendiri. Menurut Fathi Yakan, afiliasi (intima’) kepada gerakan dakwah yang benar pada dasarnya adalah afiliasi kepada Islam itu sendiri (intimai’ diini). Lalu sesudah itu adalah afiliasi kepada langkah–langkah dan perjalanan dakwah Islam yang di usung oleh dakwah atau harokah Islam itu (intima’ mashiri). Semangat dasarnya adalah tolong menolong di dalam kebaikan.

“Dan tolong-menolonglah kamu di dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Kebaikan dari hasil tolong menolong akan lebih kuat dibanding kebaikan individual, sebab secara jumlah bisa menjadi banyak sekaligus selaras dengan perintah Allah untuk saling tolong menolong. Setiap manusia saling memerlukan satu dengan yang lain. Sebab kelengkapan seseorang ada pada orang lain. Dan bahwa setiap orang sangat perlu kepada pertolongan orang lain. Karena manusia diciptakan dengan kekurangan-kekurangan.

Kesadaran afiliasi sangat dipengaruhi oleh kesadran argumentasi. Bahwa pada akhirnya hidup tidak ada yang benar-benar netral. Dalam pengertian tanpa afiliasi, itu tidak mungkin. Setiap kita secara alami diciptakan atas dasar kecendrungan berafiliasi. Dan afiliasi kader KAMMI adalah kepada dakwah. Namun demikian afiliasi kader KAMMI adalah afiliasi yang sampai pada tingkat loyalitas. Di tahap ini afiliasi memerlukan sebuah komitmen. Afiliasi memerlukan pengorbanan. Karena itu, yang bisa memperkuat kesadran afiliasi itu adalah kita sendiri. Kita yang harus memiliki persepsi yang memadai mengapa saya berafiliasi, mengapa saya bergabung (intima’i) dengan KAMMI. (Bersambung ke Kesadaran Berkontribusi)

Penulis : Noval Abuzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)
Sumber : Kammi.org


Kesadaran Argumentasi (Al Wa’yu al-Ma’rifi)


Kesadaran Argumentasi adalah atas dasar apa sesungguhnya kita menjadi kader KAMMI. Pertanyaan ini harus mampu kita jawab dengan sejujur-jujurnya. Pertanyaan ini harus sering kita ulang-ulang, bukan untuk menunjukan keraguan tapi untuk menguatkan keyakinan. Inilah yang di namakan niat.

“Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan…” (HR Bukhari dan Muslim)

KAMMI adalah gerakan dakwah dan anak kandung dakwah, maka kemudian menjadi aktivis KAMMI adalah menjadi aktivis dakwah. Oleh sebab itu, kita harus punya alasan yang kuat mengapa mau berdakwah dan bergabung bersama barisan KAMMI. Dan mengapa sampai hari ini masih mau menjadi kader KAMMI. Kesadaran itu harus tertanam kuat di sanubari kita. Banyak argumentasi dapat kita temukan dalam ajaran-ajaran agama kita. Tapi yang menguatkan tetap panggilan jiwa kita sendiri.

Dalam Islam ada beberapa penjelasan tentang pentingnya berdakwah, mengajak orang kejalan kebaikan dan memperbaiki kerusakan di masyarakat.

Argumentasi pertama adalah hukumnya, menurut Muhammad Abul Fathi Al-Bayanuni dalam Al-Madkhal ilaa Ilmid Dakwah, semua ulama sepakat bahwa berdakwah itu hukumnya wajib. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang apakah itu wajib ‘aini (atas semua orang) ataukah wajib kifa’iyah (bila telah ada yang melaksanakan maka yang lain tidak wajib). Namun demikian yang menganggap wajib kifa’iyah, juga berpendapat bahwa bila belum tersedia jumlah yang mencukupi maka semua terkena perintah wajib untuk berdakwah.

Argumentasi Kedua, Dakwah sebagai sebaik-baik perkataan.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal shaleh, dan mereka berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat: 33)

Argumentasi ketiga, Janji pahala yang akan turut mengalir dari orang yang telah di tunjukan ke jalan kebaikan.

“Barang siapa menunjukan kejalan kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala yang melakukannya” (HR. Muslim)

Argumentasi keempat, Ancaman Allah

“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya. Hendaklah kamu menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Ataukah Allah akan menurunkan Azabnya, lalu kalian berdo’a meminta diangkat adzab dan tidak dikabulkan.” (Al Hadist)

Argumantasi kelima, Kenyataan Sejarah dan hari ini

Sesungguhnya Sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah kaum muda, terutama mahasiswa yang merupakan entitas intelektual yang menempati posisi strategis dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mahasiswa adalah agen-agen pengubah, pilar-pilar keadilan dan kebenaran, teladan perjuangan, dan aset kunci masa depan bangsa yang tak terpisahkan dari rakyat Indonesia.

Sejarah Indonesia pasca reformasi tidak membawa perubahan yang signifikan bagi rakyat, hal ini tercermin dari lemahnya penegakan supremasi hukum yang berdampak sistemik sehingga praktek korupsi tetap mengakar di negeri ini. Sementara itu, kesejahteraan terasa semakin menjauh dari kenyataan, karena pemerintah menggunakan sistem ekonomi yang lebih berpihak kepada kepentingan pasar dan mengabaikan kepentingan rakyat Indonesia.

Berangkat dari kesadaran sejarah dan kenyataan hari ini, kita menyadari bahwa gerakan mahasiswa lahir untuk mengawal cita-cita sejati reformasi, mensejahterakan rakyat dan mengisi kemerdekaan yang di wariskan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Ada juga Arkanul baiat seperti Al Fahmu (pemahaman), Al Ikhlas (ketulusan), hingga sampai rukun At Tadhiyyah (pengorbanan), semua itu adalah landasan yang membuat kita memiliki argumentasi.

Argumentasi semacam hal-hal tersebut, dari waktu ke waktu harus menginternalisasi ke dalam diri kita sehingga bias berubah dari pemahaman menjadi kesadaran. Dan dari kesadaran menjadi kesediaan dan dari kesediaan menjadi kerelaan... (Bersambung ke Kesadaran Afiliasi)

Penulis : Noval Abuzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)
Sumber : Kammi.org


Merenungkan (Kembali) Makna Menjadi Kader KAMMI


Mungkin di antara kita ada yang telah menjadi kader KAMMI selama 8 tahun. Ada juga yang sudah 5 tahun. Ada juga yang baru satu tahun atau bahkan kurang. Waktu adalah ukuran yang memberi kita label orang baru atau lama, dan hal tersebut memang tidak bisa dihindari. Tapi itu tidak memberi arti apa-apa bila lama dan baru, senior dan junior harus dipakai sebagai simbol kehormatan.

Waktu akan berarti bila diartikan sebagai ‘kesempatan untuk berkontribusi’ sebagai aktivis mahasiswa. Kesempatan untuk berkontribusi sebagai kader KAMMI. Artinya, waktu hanyalah ukuran kesempatan untuk beramal sebagai kader KAMMI. Maka, menjadi kader KAMMI dalam perspektif kesempatan hanyalah soal takdir.

Kita perlu menyadari sesungguhnya sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah kaum muda, bahkan, sejarah dunia pun sejarah kaum muda. Terutama mahasiswa yang merupakan entitas intelektual yang menempati posisi strategis dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Mahasiswa adalah agen-agen pengubah, pilar-pilar keadilan dan kebenaran, teladan perjuangan, dan aset kunci masa depan bangsa yang tak terpisahkan dari rakyat Indonesia.

Berangkat dari kesadaran sejarah dan kenyataan hari ini, kita menyadari KAMMI lahir untuk mengawal cita-cita sejati reformasi, menyejahterakan rakyat dan mengisi kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, kesadaran-kesadaran dalam diri kitalah yang memberi kita rasa terarah, perasaan menuju ke tujuan mengapa kita menjadi kader KAMMI? Kesadaran tentang makna menjadi kader itulah yang akan menjadi pendorong, landasan, sekaligus penguat mengapa kita mau berlelah-lelah bekerja, berkontribusi, dan menjalankan amanah-amanah dakwah. Yang membuat kita rela untuk infaq, syuro, dauroh, demonstrasi yang menyebabkan waktu istirahat berkurang, waktu berkumpul dengan keluarga sedikit, banyak kesenangan pribadi yang di singkirkan bahkan memprioritaskan tujuan dan capaian dakwah di atas cita-cita pribadi. Itulah yang disebut kesadaran akan menjadi kader.

Kesadaran argumentasi, kesadaran afiliasi, kesadaran berkontribusi dan kesadaran ekspektasi adalah empat hal yang perlu kita bangun untuk menjadi kader KAMMI yang bisa menjadi landasan kuat bagi kita, untuk bisa terus bertanggungjawab sebagai kader dengan baik, maksimal dan penuh produktivitas. Kesadaran Argumentasi adalah atas dasar apa sesungguhnya kita menjadi kader KAMMI. Kesadaran afiliasi, dalam perspektif normative ajaran Islam, adalah perintah untuk tidak hidup sendirian. Afiliasi yang benar, kuat dan loyal harus berbuah amal dan kontribusi. Kesadaran berkontribusi memberi kita pembuktian pada tataran yang lebih nyata tentang arti menjadi aktivis KAMMI. Dan kesadaran ekspektasi menjelaskan harapan-harapan yang ingin kita peroleh dari menjadi kader. Harapan itu ada yang terkait dengan harapan jauh di akhirat. Ada juga harapan yang dekat di dunia.

Merenungkan kembali makna menjadi kader KAMMI, pada akhirnya adalah merenungkan kembali tentang ekspektasi kita, harapan-harapan jauh dan harapan-harapan dekat kita. Tanpa itu segalanya bisa berubah menjadi sangat hampa. Afiliasi menjadi kering. Dan kontribusi hanya menjadi parade keterpaksaan. Menjadi aktivis KAMMI tiba-tiba berubah menjadi keterlanjuran yang di sesali. Di sini mimpi-mimpi dan kerinduan tentang kebahagiaan, balasan dan kejayaan sangat perlu untuk terus ditata kembali. Seperti potongan-potongan puzzle yang indah, yang kadang sedikit tidak beraturan karena benturan atau goncangan, kita perlu membuat gambar tentang harapan itu menjadi utuh kembali. Begitu seterusnya kesadaran ekspektasi harus terus ditata dan dirapikan agar selalu tampak indah dan menggairahkan.

Kesadaran-kesadaran tersebut, secara berkelanjutan harus kita asah. Kita memang harus terus merenungkan kembali apa artinya menjadi aktivis. Itu mungkin tidak akan menghilangkan sama sekali rasa lelah akibat menjadi aktivis. Hal itu mungkin juga tidak akan menghilangkan sama sekali masalah-masalah, perbedaan pendapat, dan kadang juga kegagalan-kegagalan. Tapi setidaknya, kesadaran-kesadaran itu bisa membuat kita merasa punya alasan yang memadai mengapa kita mau menjadi aktivis KAMMI. Sampai hari ini. (Bersambung ke Kesadaran Argumentasi)

Penulis : Noval Abuzarr (Ketua KAMMI Daerah Jakarta)
Sumber : Kammi.org


Selasa, 23 November 2010

Kepemimpinan Pemuda dalam Menjawab Tantangan Indonesia Masa Depan


Sekian puluh tahun telah dilalui bangsa ini dalam mengusung kemerdekaannya, namun perubahan menuju masyarakat yang sejahtera seakan masih menjadi sebuah jalan panjang yang tak tahu dimana ujungnya. Bergantinya rezim pemerintahan dari masa ke masa seolah hanya menjadi sebuah rutinitas sakral dan ajang pertunjukan kekuasaan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan.

Bangsa mana yang akan mengatakan masyarakatnya sejahtera jika tingkat kemiskinan mencapai 13,33 persen dengan jumlah penduduk miskin hingga 31 juta orang, ini adalah sebuah kegagalan yang dibiarkan atau kasarnya disengaja. Kemiskinan semakin meningkat akibat ulah para penguasa yang mana meraka adalah para pemimpin di negeri ini, mereka telah menorehkan tinta hitam dengan menjadikan Negara kita Indonesia sebagai Negara nomor satu paling korup di dunia.

Sebagai generasi pelanjut, kami menginginkan sebuah perubahan yang mendasar, perubahan yang komprehensif dan substantif, meliputi seluruh bidang kehidupan dan sisi normatif bagi seluruh masyarakat. Bukan sekedar perubahan yang sifatnya parsial dan hanya menjadi solusi sesaat, yang pada akhirnya akan kembali melahirkan masalah-masalah baru. Seperti hutang Negara kita kepada bank dunia yang sedemikian besar hingga mencapai angka Rp.250 triliun, mereka mengatakan ini adalah sebuah solusi padahal hutang-hutang itu akan menjadi beban bagi kami generasi di masa depan. Dalam mewujudkan perubahan ini, memang dibutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak, baik itu pemerintah, praktisi, ilmuwan, dan masyarakat sipil termasuk di dalamnya para pemuda yang sedianya bersungguh-sungguh dalam melakukan perubahan. Seorang pemuda diharapkan mampu berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Saya kira hal inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi para pemuda masa kini yang sering disebut sebagai calon pemimpin bangsa masa depan. Pemuda yang di maksud adalah mahasiswa yang sedianya dikenal sebagai kalangan intelektual. Mahasiswa merupakan tingkatan dimana seseorang itu telah mampu menemukan jati diri atau pematangan diri. Sehingga pada tahapan ini proses pendidikan atau wawasan yang di terima sangat menentukan bagi masa depan mereka. Kemudian selanjutnya adalah bagaimana pemuda-pemuda ini mampu tampil sebagai seorang pemimpin di masa depan. Tentu hal mendasar yang harus diupayakan adalah melatih dan menanamkan karakter kepemimpinan mulai dari sekarang. Karena jiwa kepemimpinan dikalangan pemuda saat ini masih menjadi sebuah masalah dan tuntutan yang harus terus diasah dan ditingkatkan kualitasnya selain basis keilmuan/kompetensinya. Keberadaan Universitas atau Perguruan Tinggi merupakan salah satu basis strategis untuk menggiatkan hal tersebut, begitupun dengan keberadaan organisasi kepemudaan diharapkan mampu memberikan motifasi tersendiri bagi mereka dalam menguasai dan meningkatkan keilmuan atau prestasi akademiknya. Karena pengembangan kepemimpinan pemuda merupakan kunci utama dalam melahirkan pakar atau ilmuwan yang memiliki jiwa kepemimpinan. Hal ini sangat penting dilakukan, agar nantinya pemimpin yang memegang peranan bukanlah orang-orang karbitan yang langsung jadi pemimpin dalam sehari seperti kebanyakan sekarang ini, yang tanpa melalui tahapan-tahapan pendewasaan moral, kearifan intelektual dan kapasitas kebijakan kemudian melakukan perbuatan hina dengan mencuri uang Negara, menjual aset kepada asing dan lebih mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Oleh karenanya, seorang pemuda tidak boleh berpangku tangan tanpa ada partisipasi dalam mewujudkan agenda perubahan bangsa ini. Belajar dan bergerak merupakan indikator kebaikan hidup bagi seorang pemuda. Karena semua yang belajar dan bergerak akan mendatangkan kebaikan dan perubahan. Tuntutan bagi para pemuda untuk bergerak dikarenakan bahwa pemuda adalah sosok yang energik dan memiliki semangat intelektual. Kemudian sebagai entitas masyarakat, pemuda juga berusaha kritis terhadap kondisi masyarakatnya dan berusaha mengungkapkan realitas dan fakta-fakta yang terjadi di masyarakat, dan menyampaikan langsung kepada para penguasa dan mampu mengambil kebijakan. Pada akhirnya pemuda menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk terus menyuarakan perubahan dalam hal kebaikan.

Untuk menjawab tantangan kepemimpinan masa depan, membaca realitas dimasa kini adalah kuncinya. Melihat banyaknya tokoh yang pakar saat ini tetapi keberadaannya tidak berpengaruh atau tidak memiliki kekuatan untuk melakukan sebuah aksi massif dalam mengusung idealismenya atau gagasannya. Sehingga seorang pemuda di masa kini dituntut memiliki jiwa kepemimpinan (leadhership), hal ini sangat menentukan kapasitasnya sebagai figur yang memang layak di jadikan teladan atau pemimpin. Yang mana kita ketahui bahwa setiap proses perubahan sangat dipengaruhi oleh para pemimpin. Terlebih lagi dalam struktur dan budaya sosial yang paternalistik. Sehingga dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, bangsa ini harus memiliki pemimpin yang amanah, mau bekerja keras, dan mampu mengarahkan serta menggerakkan massanya untuk bersama berjuang mencapai cita-cita perjuangannya. Hal inilah yang menjadi harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan, seorang pemuda atau mahasiswa yang ingin belajar tentang kepemimpinan haruslah memulai dengan bergabung disebuah organisasi baik itu organisasi kemahasiswaan maupun masyarakat. Hal ini dibutuhkan sebagai upaya menguatkan pola pikir dan integritas serta mengasah jiwa kepemimpinan mulai sekarang. Dapat dikatakan berorganisasi bagi seorang calon pemimpin bangsa adalah bersifat permanen, bukan kondisional, karena organisasi merupakan mikrokosmos atau dunia kecil yang dengannya kita mampu mempelajari dan mengkaji lebih jauh menuju tatanan masyarakat yang nyata. Terlebih dalam konteks masyarakat yang telah mengglobal seperti sekarang ini dimana suara kolektif adalah lebih powerfull dibandingkan suara individu per-individu. Sehingga keberadaan seorang dalam sebuah LSM, Ormas, Orpol, Perhimpunan Profesi akan lebih memiliki nilai yang lebih manakala mereka mewacanakan sebuah kebijakan ataupun opini publik dibandingkan secara individu. Sehingga pada tahapan ini di harapkan akan lahir Sumber daya manusia yang unggul atau qualifaid, dimana mereka bukan hanya orang-orang intelektual yang berprestasi tetapi juga memiliki jiwa kepemimpinan karena untuk menjadi seorang pemimpin di tingkat daerah, nasional, kawasan maupun internasional setidaknya dibutuhkan orang yang memiliki kompetensi dan berjiwa kepemimpinan.

Sumber daya manusia unggul atau kualifaid adalah personil yang memiliki nilai tinggi. Hanya orang-orang tersebutlah yang sanggup berkompetisi di zaman ini. Di era globalisasi, seorang pemuda diharapkan banyak belajar serta mampu membuat konsep dan strategi untuk masa depan sehingga bangsa ini dapat bersaing dengan Negara lain baik dalam hal perkembangan ekonomi, politik dan militer antar bangsa yang kita lihat sangat kompetitif, hal ini dibutuhkan untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Masyarakat Indonesia yang sejahtera adalah cita-cita besar dari sebuah perubahan yang diinginkan bangsa ini. Hal tersebut dapat kita capai jika generasi bangsa hari ini menyadari sepenuhnya bahwa di tangannyalah perubahan itu akan terwujud. Serta keterlibatan pemerintah dalam memberikan fasilitas baik yang sifatnya pelayanan, penyadaran, pengembangan, kemitraan maupun penghargaan turut menentukan perubahan ini. Kemudian yang terakhir, dengan kapasitas yang dimiliki oleh pemuda tersebut diharapkan mampu membawa dirinya menjadi figur teladan di masyarakat, sehingga masyarakat akan percaya bahwa merekalah yang pantas dan sanggup memimpin Indonesia masa depan.

Ditulis oleh Ikhsan Pallawa, S.Pd.I
Ketua kompetensi PP KAMMI
sebagai salah satu karya Menjadi Indonesia "Tempo Insitute 2010"